JAKARTA- Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai contoh produk demokrasi Indonesia yang menjunjung tinggi prinsip kesetaraan.
Pernyataan itu dilontarkan oleh salah satu pembicara dalam Panel Discussion of ISEAS Yusof Ishak – Regional Outlook Forum 2023 di Singapura, bersama Yenny Wahid selaku Direktur The Wahid Institute.
Terpilihnya Jokowi yang notabene berasal dari kalangan masyarakat biasa menjadi Presiden RI adalah contoh konsolidasi demokrasi di Indonesia berhasil menghapus sistem aristokrasi dan feodalisme sebagai sumber kekuasaan. Hal itu karena prinsip kesetaraan, sambungnya, adalah salah satu kunci utama dalam demokratisasi Indonesia.
Jokowi adalah contoh sempurna dari prinsip kesetaraan dalam demokrasi. Jokowi lahir dan besar dari kalangan keluarga biasa di Jawa. Hingga akhirnya Ia menjadi Presiden RI, adalah bukti bahwa kesempatan yang setara adalah salah satu kriteria demokrasi yang nyata di Indonesia.
Disebutkan empat poin penting yang membuat proses penguatan demokrasi di Indonesia pascarezim Orde Baru lebih mantap dari yang dibayangkan sebelumnya. Reformasi 1998, prinsip kesetaraan yang menghapus sistem aristokrasi dan feodalisme, menjamurnya gerakan civil society, dan penguatan landasan demokrasi elektoral di era Orde Baru.
“Prinsip-prinsip demokrasi berjalan di Indonesia, yang membuat proses konsolidasi demokrasi di era reformasi berjalan mulus. Empat poin yang saya sebutkan itu menjadi landasan utama demokratisasi di Indonesia”, ujar salah sau pembicara dalam agenda tersebut.
Meski demikian, Reformasi 1998 dan konsolidasi demokrasi tidak melulu hanya soal pemilu semata. Baginya masih banyak isu dan tantangan strategis yang harus dihadapi serta diselesaikan. “Agenda pemberantasan korupsi dan penegakan supremasi hukum masih menjadi tantangan terbesar di Indonesia. Namun hingga saat ini saya melihatnya masih dalam koridor yang benar dalam kerangka konsolidasi demokrasi,” ucapnya.






.jpeg)
0 comments:
Post a Comment